harrischainoflakescouncil.com – Bayangkan suasana ini: Minggu pagi yang riuh, uap mengepul dari tumpukan keranjang bambu, dan denting piring porselen beradu dengan suara obrolan yang tak henti-henti. Pelayan mendorong kereta makanan (troli) dengan cekatan melewati meja-meja bundar yang padat. Jika Anda pernah merasakan kekacauan yang menyenangkan ini, selamat datang di dunia Dim Sum: Tradisi “Yum Cha” (Minum Teh) dari Kanton.
Bagi banyak orang di luar budaya Tionghoa, dim sum seringkali dianggap sekadar “makan siang dengan porsi kecil”. Padahal, jika ditelisik lebih dalam, ini adalah sebuah ritual sosial yang kompleks. Anda tidak sekadar memakan hakau atau ceker ayam; Anda sedang berpartisipasi dalam sejarah kuliner yang telah berjalan ribuan tahun di sepanjang Jalur Sutra.
Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa makanan ini selalu disajikan dengan teh panas yang terus diisi ulang? Atau mengapa orang mengetukkan dua jari ke meja saat teh dituangkan? Mari kita bedah tuntas etiket, sejarah, dan kenikmatan dari tradisi legendaris ini.
Asal-Usul Jalur Sutra: Ketika Teh Bertemu Camilan
Sejarah mencatat bahwa tradisi ini bermula dari kedai-kedai teh di sepanjang Jalur Sutra kuno. Para pedagang dan pengelana yang kelelahan membutuhkan tempat untuk beristirahat (yum cha berarti “minum teh”). Awalnya, tabib kuno percaya bahwa menggabungkan teh dengan makanan bisa menyebabkan obesitas. Namun, seiring waktu, anggapan itu pudar ketika ditemukan bahwa teh justru membantu pencernaan.
Dari sinilah lahir istilah “Dim Sum” yang secara harfiah berarti “menyentuh hati”. Konsepnya bukan untuk mengenyangkan perut sampai begah, melainkan camilan ringan yang menyentuh hati (dan lidah) sebagai pendamping teh.
Fakta Menarik: Di Guangzhou atau Hong Kong, orang tua sering melakukan yum cha setelah olahraga pagi (Tai Chi) sambil membawa burung peliharaan mereka dalam sangkar. Ini adalah pemandangan klasik yang menunjukkan betapa Dim Sum: Tradisi “Yum Cha” (Minum Teh) dari Kanton adalah perekat sosial.
Etiket Meja: Bahasa Isyarat “Terima Kasih”
Pernah melihat seseorang mengetukkan jari telunjuk dan jari tengah ke meja saat orang lain menuangkan teh ke cangkir mereka? Jangan bingung, mereka tidak sedang tidak sabar. Itu adalah ucapan “terima kasih” tanpa suara.
Legenda mengatakan ini bermula dari Kaisar Qianlong yang menyamar menjadi rakyat biasa. Saat ia menuangkan teh untuk bawahannya, si bawahan ingin bersujud (kowtow) sebagai tanda hormat namun takut membongkar penyamaran Kaisar. Sebagai gantinya, ia menekuk jari-jarinya di atas meja menyerupai orang yang sedang bersujud.
Tips Pro: Lakukan ini saat teman menuangkan teh untuk Anda. Ini akan membuat Anda terlihat seperti insider yang paham budaya, bukan sekadar turis kuliner.
The Holy Trinity: Hakau, Siomay, dan Char Siu Bao
Di tengah ratusan varian dim sum, ada tiga “dewa” yang menjadi tolak ukur kualitas sebuah restoran: Hakau (udang), Siu Mai (daging babi/ayam), dan Char Siu Bao (bakpao daging merah).
Hakau adalah ujian sesungguhnya bagi seorang koki dim sum. Kulitnya harus transparan, tipis, namun cukup kuat untuk tidak pecah saat disumpit. Lipatannya (pleats) idealnya berjumlah di atas sepuluh. Jika kulitnya tebal dan lengket seperti lem, Anda boleh skeptis terhadap menu lainnya.
Insight: Jangan hanya memesan yang digoreng. Keindahan dim sum Kanton terletak pada teknik pengukusan yang menonjolkan rasa asli bahan segar tanpa tertutup minyak berlebih.
Fenomena “Phoenix Claws”: Jangan Menilai dari Tampilan
Bagi sebagian orang Barat, melihat kaki ayam (ceker) di piring mungkin mengerikan. Namun, dalam tradisi Kanton, Fung Zao atau Cakar Phoenix adalah delikatesa tingkat tinggi. Proses masaknya sangat rumit: digoreng, direndam air es hingga kulitnya mengembang (“tiger skin”), lalu dikukus dengan saus tauco hitam.
Rasanya? Lembut, kaya kolagen, dan bumbunya meresap hingga ke tulang. Ini adalah bukti filosofi kuliner Tiongkok yang “tidak membuang apa pun” (nose-to-tail eating) namun mengolahnya menjadi sesuatu yang mewah.
Analisis: Memesan ceker ayam menunjukkan bahwa Anda memiliki palet rasa yang petualang dan menghargai tekstur, bukan hanya rasa daging.
Teh Adalah Bintang Utama, Makanan Hanyalah Pendamping
Ingat, nama kegiatannya adalah Yum Cha (minum teh), bukan Sik Bau (makan bakpao). Memilih teh yang tepat adalah krusial.
-
Pu-erh (Bo Lay): Teh fermentasi berwarna gelap, rasanya earthy. Wajib dipesan jika Anda makan banyak gorengan karena sifatnya meluruhkan lemak.
-
Jasmine (Heung Pin): Wangi dan ringan, cocok untuk pemula.
-
Chrysanthemum (Guk Fa): Bebas kafein, manis alami, dan menyegarkan.
Tips: Jika teko teh sudah kosong, Anda tidak perlu berteriak memanggil pelayan. Cukup buka tutup teko dan letakkan dalam posisi setengah terbuka atau terbalik di atas bibir teko. Pelayan akan otomatis tahu dan mengisinya kembali dengan air panas.
Troli vs. Pesanan Ala Carte: Pergeseran Zaman
Dulu, pengalaman klasik dim sum identik dengan wanita-wanita paruh baya yang mendorong troli berisi tumpukan klakat bambu sambil berteriak menyebutkan nama menu. “Har gao! Siu mai! Pai gwat!”
Namun, kini banyak restoran modern beralih ke sistem kertas pesanan (ala carte) demi efisiensi dan menjaga makanan tetap segar (freshly steamed upon order). Meskipun kualitas makanan mungkin lebih baik, harus diakui ada romansa yang hilang ketika troli-troli itu pensiun. Sensasi menunjuk makanan secara impulsif karena “terlihat enak” saat lewat adalah bagian dari keseruannya.
Kesimpulan
Pada akhirnya, Dim Sum: Tradisi “Yum Cha” (Minum Teh) dari Kanton mengajarkan kita untuk melambat. Di tengah dunia yang serba cepat, duduk melingkar bersama keluarga atau kolega, berbagi cerita sambil berebut siomay terakhir, adalah kemewahan tersendiri.
Jadi, akhir pekan ini, ajaklah orang-orang terdekat Anda. Pesanlah teh Pu-erh yang pekat, ketukkan jari Anda di meja, dan nikmati setiap gigitan kecil yang menyentuh hati itu. Karena makanan, sejatinya, terasa lebih nikmat saat dibagi.