harrischainoflakescouncil.com – Pernahkah Anda menatap sepotong daging mentah yang begitu cantik hingga rasanya sayang untuk dimasak? Daging itu tidak merah pekat seperti daging sapi di pasar tradisional, melainkan merah muda pucat dengan jaring-jaring putih halus yang menyebar seperti pola marmer atau batik. Di dunia kuliner, inilah yang disebut “karya seni yang bisa dimakan”.
Namun, ketika pelayan restoran menyodorkan menu dengan harga selangit, sering kali muncul dilema klasik: “Pilih Wagyu A5 atau A4?” Selisih harganya lumayan, tapi apakah rasanya benar-benar berbeda jauh? Bagi orang awam, keduanya mungkin terlihat sama-sama mewah dan mahal. Padahal, di balik kode huruf dan angka tersebut, tersimpan perbedaan tekstur dan pengalaman rasa yang signifikan.
Jika Anda berencana merogoh kocek dalam untuk steak dinner akhir pekan ini, tahan dulu. Jangan sampai Anda memesan daging termahal tapi malah merasa “eneg” di suapan ketiga. Mari kita bedah tuntas arti marbling (A5 vs A4): lemak yang meleleh di lidah agar investasi kuliner Anda tidak sia-sia.
Marbling: Bukan Sekadar Lemak Jahat
Sebelum masuk ke ring pertarungan antara A5 dan A4, kita perlu meluruskan satu hal: marbling itu bukan gajih (lemak pinggiran) yang biasa Anda sisihkan di mangkuk bakso. Dalam istilah Jepang, ini disebut Shimofuri.
Marbling adalah lemak intramuskular—lemak yang berada di dalam serat otot, bukan yang membungkusnya. Keistimewaan lemak pada sapi ras Wagyu (seperti Kobe, Matsusaka, atau Ohmi) adalah titik lelehnya yang sangat rendah. Bayangkan, lemak ini bisa mulai meleleh di suhu 25 derajat Celcius! Artinya, saat masuk ke mulut Anda yang bersuhu sekitar 37 derajat, ia lumer secara harfiah tanpa perlu dikunyah keras. Inilah esensi dari arti marbling (A5 vs A4): lemak yang meleleh di lidah.
Membedah Kode Rahasia: Apa Itu “A” dan “5”?
Sering kali kita terjebak marketing yang meneriakkan “Wagyu A5!” tanpa paham maksudnya. Sistem penilaian ini dikeluarkan oleh JMGA (Japanese Meat Grading Association) dan sangat ketat.
Huruf “A” sebenarnya adalah Yield Grade atau seberapa banyak daging yang bisa dihasilkan dari satu ekor sapi. Grade A artinya above standard (sangat baik), B standar, dan C di bawah standar. Bagi kita konsumen, huruf ini tidak terlalu mempengaruhi rasa, tapi sangat penting bagi peternak.
Nah, angka “5” atau “4” itulah kuncinya. Ini adalah Quality Grade yang dinilai dari empat aspek: warna daging, warna lemak, tekstur, dan yang paling krusial: BMS (Beef Marbling Standard).
BMS: Skala Richter-nya Daging Sapi
Untuk memahami perbedaan A5 dan A4, kita harus melihat skor BMS-nya. Skala ini berkisar dari 1 sampai 12.
-
Wagyu A4: Memiliki skor BMS antara 5 hingga 7. Marbling-nya sudah sangat banyak, tapi Anda masih bisa melihat dominasi warna merah daging yang jelas.
-
Wagyu A5: Memiliki skor BMS 8 hingga 12. Di level ini, warna putih lemak sering kali lebih mendominasi daripada merah dagingnya. Ini adalah level dewa.
Jadi, ketika kita bicara soal arti marbling (A5 vs A4): lemak yang meleleh di lidah, A5 adalah rajanya lemak, sementara A4 adalah pangeran yang lebih seimbang.
Duel Rasa: A5 si “Bom Mentega” vs A4 si “Daging Juicy”
Di sinilah preferensi pribadi bermain peran. Banyak orang mengira A5 pasti lebih enak dari A4 karena angkanya lebih tinggi. Faktanya? Belum tentu.
Wagyu A5 menawarkan sensasi richness yang luar biasa. Begitu masuk mulut, rasanya seperti ledakan umami dan mentega. Anda hampir tidak perlu gigi untuk memakannya. Namun, karena kandungan lemaknya yang ekstrem (bisa mencapai 50% lebih), makan Wagyu A5 dalam porsi besar (misalnya steak 200 gram) bisa membuat Anda cepat merasa overwhelmed atau eneg. Ini bukan daging untuk dimakan sampai kenyang, melainkan untuk dinikmati per gigitan kecil.
Di sisi lain, Wagyu A4 menawarkan keseimbangan. Lemaknya cukup untuk memberikan sensasi lumer, tapi tekstur serat dagingnya masih terasa saat dikunyah. Bagi para pecinta steak sejati yang merindukan sensasi “makan daging” namun tetap ingin kemewahan juicy, A4 sering kali menjadi pilihan yang lebih masuk akal dan bisa dinikmati dalam porsi lebih besar.
Kapan Harus Memilih A4 Daripada A5?
Bayangkan Anda sedang makan malam. Jika Anda memesan menu tasting atau omakase di mana daging hanya disajikan 2-3 potong kecil, pilihlah A5. Sensasi lemaknya yang intens akan menjadi puncak kenikmatan yang tak terlupakan.
Namun, jika Anda ingin makan steak utuh sebagai hidangan utama dengan nasi atau kentang, Wagyu A4 adalah juara sesungguhnya. Rasanya tidak seberat A5, sehingga Anda bisa menghabiskannya tanpa merasa mulut Anda dilapisi minyak berlebih. Selain itu, harganya yang sedikit di bawah A5 membuat dompet Anda bernapas lebih lega.
Cara Masak: Jangan Perlakukan Seperti Daging Pasar
Kesalahan terbesar pemula saat membeli daging dengan arti marbling (A5 vs A4): lemak yang meleleh di lidah ini adalah cara masaknya.
Jangan pernah menambahkan mentega atau minyak di wajan! Lemak marbling itu sendiri akan keluar dan menjadi minyak alami saat terkena panas. Gunakan wajan cast iron atau stainless steel, panaskan hingga berasap, dan masak sebentar saja (searing). Ingat, tujuan Anda hanya memberi kerak kecokelatan (maillard reaction) di luar dan melunakkan lemak di dalam. Jangan masak sampai well done kecuali Anda ingin melihat uang jutaan rupiah menguap menjadi minyak goreng di wajan.
Kesimpulan
Pada akhirnya, perdebatan antara A5 dan A4 bukanlah soal mana yang lebih baik secara objektif, melainkan mana yang lebih cocok dengan lidah dan kapasitas perut Anda. A5 adalah kemewahan ekstrem yang menawarkan tekstur seperti sutra, sementara A4 adalah harmoni sempurna antara kelembutan dan cita rasa daging sejati.
Jadi, saat berikutnya Anda dihadapkan pada pilihan ini, ingatlah filosofi arti marbling (A5 vs A4): lemak yang meleleh di lidah. Jika ingin sensasi “bom umami” sesaat, ambil A5. Jika ingin kepuasan makan daging yang juicy, A4 siap memanjakan Anda. Selamat menikmati, dan biarkan lidah Anda yang menjadi juri terakhir!